MAKALAH
ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
(ISBD)
PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT
Tugas ini dibuat Untuk memenuhi Tugas Ilmu Sosial Budaya dasar
(ISBD)
Yang dibina Oleh Ibu,Emilda Marta,S.E
Disusun Oleh:
BERRI ANAM
2011.02.02.0.0010
UNIVERSITAS ISLAM MADURA (UIM)
FAKULTAS TEKNIK
SISTEM INFORMASI
2012
KATA
PENGANTAR
Segala puji
syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan karunia-Nya saya
dapat menyelesaikan tugas yang berjudul “Pertentangan-Pertentangan Sosial dan Integrasi
Masyarakat” ini dengan baik dan lancar.
Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ISBD. Dalam makalah ini akan dibahas
hal-hal yang menyangkut tentang perbedaan kepentingan, prasangka dan
diskriminasi, Ethnosentrisme dan stereotype, konflik dalam masyarakat, serta
integrasi masyarakat dan nasional. Maka dari itu makalah ini cocok dibaca oleh
kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum yang cinta terhadap persatuan dan
kesatuan sebagai warga negara Indonesia.
Saya juga
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya
dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak luput dari kekurangan. Oleh
sebab itu saya sangat berharap dapat menerima kritik dan saran dari semua pihak
untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi pembaca. Amin….
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setiap
tingkah laku individu satu dengan individu lain pasti berbeda. Individu
bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Tapi apabila
gagal dalam memenuhi kepentingannya akan banyak menimbulkan masalah baik bagi
dirinya maupun bagi lingkungannya. Dan suatu hal yang saling berkaitan, apabila
seorang individu mempunyai prasangka dan akan cenderung membuat sikap untuk
membeda-bedakan. Maka akan terjadi sikap bahwa kebudayaan dirinya lebih baik
daripada kebudayaan orang lain, sehingga timbullah konflik yaitu berusaha untuk
memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan
ancaman atau kekerasan.
Di dalam
kelompok masyarakat Indonesia, konflik dapat disebabkan karena faktor harga
diri dan kebanggaan kelompok terusik, adanya perbedaan pendirian atau sikap,
perbedaan kebudayaan, benturan kepentingan (politik, ekonomi, kekuasaan). Adat
kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam masyarakat merupakan tali pengikat
kesatuan perilaku di dalam masyarakat. Suatu kelompok yang ada dalam keadaan
konflik yang berlangsung lama biasanya mengalami disintegrasi. Dan untuk
menyelesaikan semua itu melalui integrasi masyarakat. Integrasi dapat
berlangsung cepat atau lambat karena dipengaruhi oleh faktor homogenitas
kelompok, besar kecilnya kelompok, mobilitas geografis, dan efektifitas
komunikasi.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
saja yang terjadi di dalam masyarakat?
2. Mengapa
permasalahan itu terjadi?
3. Apa
yang bisa mengendalikan sehingga permasalahan bisa selesai?
C. Tujuan
Pembahasan
1. Mengetahui
masalah apa saja yang terjadi di dalam masyarakat.
2. Mengetahui
yang melatarbelakangi permasalahan itu muncul.
3. Masyarakat
bisa menghindari terjadinya permasalahan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pertentangan Sosial dan
Integrasi Masyarakat
Hidup
bermasyarakat yaitu sebuah hubungan antar individu-individu maupun antar
kelompok dan golongan yang terjadi dalam proses kehidupan. Hidup bermasyarakat
juga berarti kehidupan dinamis, dimana setiap anggota masyarakat salaing
berinteraksi. Hubungan antar individu ini pun diikat oleh ikatan yang berupa
norma serta nilai-nilai yang telah dibuat bersama para anggota. Norma dan
nilai-nilai inilah yang menjadi alat pengendali agar para anggota masyarakat
tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu. Solidaritas,
toleransi dan tenggang rasa adalah bukti kuatnya ikatan itu. Sakit salah satu
anggota masyarakat akan dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. Dari
hubungan seperti itulah lahir keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.
Pada kenyataannya
tidak semua masyarakat membentuk sebuah harmonisasi. Pada kondisi-kondisi
tertentu hubungan antara masyarakat diwarnai berbagai persamaan. Namun sering
juga didapati perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan dalam masyarakat.
Hal-hal seperti itulah yang menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Salah satu
contohnya adalah Pertentangan sosial dan integrita masyarakat
pertentang
sosial menurut saya adalah suatu konflik yang terjadi didalam suatu lingkungan
masyarakat. Dimana ada suatu kelompok yang tidak menyukai kelompok lain,
sehingga menimbulkan suatu perselisihan diantara mereka. Banyak sekali
pertentangan sosial yang terjadi di Dunia ini. Seperti contohnya perak Irak
yang kunjung selesai, dan kalau menusuri indonesia contohnya GAM (Gerakan Aceh
Merdeka), PT.freepot yang terjadi di Papua.
Adapun Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya pertentangan sosial:
- Rasa Iri antara
individu,negara, dan masyarakat
2. Adanya rasa tidak puas masyarakat terhadap kepemerintahan
3. Banyak adu domba antara politik,agama,suku serta budaya
Integrasi Masyarakat
Integrasi
berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau
keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara
unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga
menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Definisi lain
mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik
beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat,
namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi
memiliki 2 pengertian, yaitu :
Pengendalian
terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu
Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu
Sedangkan yang
disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau
dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi
sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan,
baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Menurut
pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa
terintegrasi di atas dua landasan berikut :
Suatu masyarakat
senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara
sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang
bersifat fundamental (mendasar) Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota
masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial
(cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan
sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya
loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap
berbagai kesatuan sosial.
Penganut konflik
berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya
saling ketergantungan di antara berbagai kelompok.
Integrasi sosial
akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang
batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial
A. Faktor Internal :
kesadaran diri sebagai makhluk sosial
tuntutan kebutuhan
jiwa dan semangat gotong royong
tuntutan kebutuhan
jiwa dan semangat gotong royong
B. Faktor External :
tuntutan perkembangan zaman
persamaan kebudayaan
terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
persaman visi, misi, dan tujuan
sikap toleransi
adanya kosensus nilai
adanya tantangan dari luar
persamaan kebudayaan
terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
persaman visi, misi, dan tujuan
sikap toleransi
adanya kosensus nilai
adanya tantangan dari luar
B.
Perbedaan Kepentingan
Kepentingan
merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Tingkah laku individu
merupakan cara atau alat dalam memenuhi kepentingannya. Ada 2 jenis
kepentingan dalam diri individu yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan
biologis dan sosial/psikologis. Perbedaan kepentingan itu antara lain:
1.
Kepentingan individu untuk memperoleh kasih sayang.
2.
Kepentingan individu untuk memperoleh harga diri.
3.
Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama.
4.
Kepentingan individu untuk memperoleh potensi dan posisi.
5.
Kepentingan individu untuk membutuhkan orang lain.
6.
Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan di dalam kelompoknya.
7.
Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri.
8.
Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri
C.
Prasangka dan Diskriminasi
Prasangka dan
diskriminasi dua hal yang ada relevansinya. Kedua tindakan tersebut dapat
merugikan pertumbuhan, perkembangan, dan bahkan integrasi masyarakat. Kerugian
prasangka melalui hubungan pribadi dan akan menjalar bahkan melembaga
(turun-temurun). Jadi prasangka dasarnya pribadi dan dimiliki bersama. Perbedaan
terpokok antara prasangka dan diskriminatif adalah prasangka menunjukkan pada
aspek sikap, sedangkan diskriminatif pada tindakan. Sikap adalah kecenderungan
untuk berespons baik secara positif atau negatif terhadap orang, obyek atau situasi.
Dalam konteks
realitas, prasangka diartikan: “Suatu sikap terhadap anggota kelompok etnis
atau ras tertentu, yang terbentuk terlalu cepat tanpa suatu induksi.
Diskriminatif merupakan tindakan yang realistis”. Dapat disimpulkan bahwa
prasangka itu muncul sebagai akibat kurangnya pengetahuan, pengertian dan fakta
kehidupan, adanya dominasi kepentingan golongan atau pribadi, dan tidak
menyadari atau insyaf akan kerugian yang bakal terjadi. Tingkat prasangka itu
menumbuhkan jarak sosial tertentu di antara anggota sendiri dengan anggota
kelompok luar.
Sebab-sebab
terjadinya prasangka:
1.
Pendekatan
Historis
Pendekatan ini berdasarkan teori pertentangan kelas, menyalahkan
kelas rendah di mana mereka yang tergolong kelas atas mempunyai alasan untuk
berprasangka terhadap kelas rendah
2.
Pendekatan
Sosiokultural dan Situasional
a.
Mobilitas
sosial: gerak perpindahan dari strata satu ke strata sosial lainnya. Artinya
kelompok orang yang mengalami penurunan status akan terus mencari alasan
mengenai nasib buruknya.
b.
Konflik antara
kelompok: prasangka sebagai realitas dari dua kelompok yang bersaing.
c.
Stagma
perkantoran: ketidakamanan atau ketidakpastian di kota disebabkan oleh “noda”
yang dilakukan oleh kelompok tertentu.
d.
Sosialisasi:
prasangka muncul sebagai hasil dari proses pendidikan, melalui proses
sosialisasi mulai kecil hingga dewasa.
3.
Pendekatan
Kepribadian
Teori ini menekankan pada faktor kepribadian sebagai penyebab
prasangka, disebut dengan frustasi agresi. Menurut teori ini keadaan frustasi
merupakan kondisi yang cukup untuk timbulnya tingkah laku agresif.
4.
Pendekatan
Fenomenologis
Pendekatan ini ditekankan pada bagian individu memandang atau
mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka.
5.
Pendekatan
Naïve
Bahwa prasangka lebih menyoroti obyek prasangka tidak menyoroti
individu yang berprasangka.
Prasangka
bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau tergesa-gesa berdasarkan
generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah dan dibarengi proses
simplifikasi (terlalu menyederhanakan terhadap suatu realita). Sikap
berprasangka jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada
pengalaman atau apa yang di dengar.
D.
Etnhosentrisme Stereotype
Ethnosentrisme yaitu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan orang
lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Sikap ini dianggap
bahwa kebudayaan dirinya lebih unggul dari kebudayaan lainnya.
Stereotype yaitu gambaran dan ajakan ejek. Stereotype diartikan sebagai
tanggapan mengenai sifat-sifat dan waktu pribadi orang atau golongan lain yang
bercorak negatif sebagai akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya yang
subyektif
E.
Konflik dalam Masyarakat
Konflik
merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang
sering dihubungkan dengannya, misal kebencian atau permusuhan. Konflik dapat
terjadi pada lingkungan yang paling kecil yaitu individu sampai kepada lingkup
yang luas, yakni masyarakat:
1. Pada taraf di dalam diri seseorang,
konflik menunjuk pada adanya pertentangan atau emosi-emosi dan
dorongan-dorongan antagonistic di dalam diri seseorang.
2. Pada taraf kelompok,
konflik-konflik ditimbulkan dari konflik-konflik yang terjadi dalam diri
individu dari perbedaan-perbedaan anggota kelompok dalam tujuan, nilai, norma
serta minat untuk menjadi anggota kelompok.
3. Pada taraf masyarakat, konflik
bersumber pada perbedaan nilai dan norma kelompok dengan nilai dan norma
kelompok lain.
Tipe konflik
ini timbul dari proses-proses yang tidak rasional dan emosional dari pihak-pihak
yang terlibat di dalamnya. Upaya untuk memecahkan konflik selalu timbul selama
berlangsungnya kehidupan suatu kelompok, namun terdapat perbedaan-perbedaan di
dalam sifat dan intensitas konflik pada berbagai tahap perkembangan kelompok.
Adapun cara-cara pemecahan konflik sebagai berikut:
1. Elimination:
Pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik.
2. Subjugation atau Domination: Orang
atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain
untuk mentaatinya.
3. Majority Rule: Suara terbanyak yang
ditentukan dengan voting, akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan
argumentasi.
4. Minority Consent: Kelompok
mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan, dan menerima
keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.
5. Compromise (Kompromi): Kedua atau
semua sub kelompok yang terlibat di dalam konflik, berusaha mencari dan
mendapatkan jalan tengah.
6. Integration: Pendapat-pendapat yang
bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai
kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.
Usaha-usaha
untuk menghindari perbedaan-perbedaan dan untuk memendam konflik-konflik, tidak
pernah berhasil dalam waktu yang lama. Kesatupaduan di dalam
perbedaan-perbedaan merupakan suatu nilai yang menghargai perbedaan, yang
menggunakan perbedaan-perbedaan tersebut untuk memperkuat kelompok.
F.
Integrasi Masyarakat dan Nasional
Integrasi
masyarakat dapat diartikan adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat,
mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga, dan masyarakat secara
keseluruhan Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan
prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik.
Dalam
memahami integrasi masyarakat, kita juga mengenal integrasi nasional, yaitu
organisasi-organisasi formal yang melalui mana masyarakat menjalankan
keputusan-keputusan yang berwenang. Untuk terciptanya integrasi nasional, perlu
adanya suatu jiwa, asas spiritual, solidaritas yang besar. Perlu dicari
bentuk-bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sebagai akibat dari
prasangka, yaitu melalui 4 sistem:ss
1.
Sistem budaya seperti nilai-nilai
Pancasila dan UUD 45.
2.
Sistem sosial seperti kolektiva-kolektiva
sosial dalam segala bidang.
3.
Sistem kepribadian yang terwujud sebagai
pola-pola penglihatan, perasaan, pola-pola penilaian yang dianggap pola
keindonesiaan.
4. Sistem
organik jasmaniah, di mana nasion tidak didasarkan atas persamaan ras.
Untuk mengurangi prasangka ke-4 sistem itu harus
dibina, dikembangkan dan memperkuatnya sehingga perwujudan nasion Indonesia
tercapai.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Di setiap
masyarakat pasti muncul pertentangan-pertentangan atau permasalahan permasalahan,
di antaranya:
1. Perbedaan
Kepentingan: ada 2 kepentingan dalam diri individu, yakni kepentingan biologis
dan kepentingan sosial/psikologis.
2. Prasangka
dan Diskriminatif: prasangka yang menunjukkan aspek sikap sedangkan
diskriminatif pada tindakan.
3. Ethnosentrisme
dan StereotypeEthnosentrisme : kebudayaan dirinya lebih unggul dari
kebudayaan lainnya.
4. Stereotype :
gambaran dan anggapan jelek.
5. Konflik
dalam kelompok: Suatu tingkah laku yang dibedakan emosi tertentu yang sering
dihubungkan dengannya.
Cara
pengendalian dari permasalahan-permasalahan di atas, yaitu melalui integrasi
masyarakat dan nasional, yang mengandung pengertian:
1.
Integrasi Masyarakat : adanya kerjasama dari seluruh anggota
masyarakat.
2.
Integrasi Nasional : organisasi-organisasi formal melalui mana masyarakat
menjalankan keputusan-keputusan yang berwenang.
B. Saran
Makalah yang
ditulis ini tentunya sangat jauh dari nilai kesempurnaan. Meskipun demikian
penulis tetap menyarankan kepada para pembaca, agar dalam menjalani kehidupan
sehari-hari selalu melihat konflik maupun pertentangan-pertentangan yang
bersumber dari perbedaan secara logis dan realistis, sehingga tidak menimbulkan
konflik yang lebih besar yang dapat mengarahkan kita pada perpecahan dalam
berbangsa. Semoga makalah yang sederhana ini memiliki manfaat bagi penulis
khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya.


0 komentar:
Post a Comment
Kritik dan Saran anda sangat Saya butuhkan....
Terima Kasih